Print disini Print disini

Tanggapan terhadap Muhadharoh dzul akmal

TANGGAPAN TERHADAP MUHADHAROH ABUL MUNDZIR “DZUL AKMAL” HADAHULLAH
SABTU MALAM 1 SYA’BAN 1432 DI MA’HAD RIMBO PANJANG – KAMPAR – RIAU
DARI KRONOLOGIS PENGAKUAN BELIAU

بسم الله الرحمن الرحيم

1. Ucapan Syaikh Robi’ dan Syaikh Muhammad bin Hadi berasal dari pertemuan khusus/tertutup.

  • Apakah antum abul mundzir hadakallah sudah izin untuk menyebarkan ucapan syaikh Robi’ atau diperintahkan untuk menyebarkannya? apalagi menambah dengan penafsiran.
  • Jika tidak, maka ini namimah.Dari Ibnu Mas’ud sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : “Maukah aku beritahu kalian apakah al-‘adhu itu? Yakni namimah memindahkan perkataan diantara manusia” (HR. Muslim : 2606). Dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah memasukkan hadits ini dalam bukunya Kitab Tauhid bab 24.Berkata Syaikh Muhammad bin Sholeh al-utsaimin rahimahullah di Al Qoulul Mufid, namimah adalah memindahkan ucapan-ucapan diantara manusia. Menukil dari orang ini kepada orang ini misalnya sifulan telah mencela engkau, maka dia namimah, baik benar atau dusta. Jika dusta maka kebohongan dan namimah dan jika benar maka namimah. Namimah itu sebagaimana diberitahukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم  adalah memutus hubungan dan memisahkan diantara manusia (HR. Ahmad 4/227). Berubahlah kecintaan, keakraban menjadi permusuhan dan kebencian sehingga berpisah. Ini menyerupai sihir dari sisi memisahkan atau memecah belah. Firman Allah ta’ala :فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ
    Artinya: Maka mereka mempelajari dari kedua (malaikat itu) apa yang dengan sihir tersebut dapat menceraikan seorang suami dengan istrinya (Al Baqoroh : 102).
    Namimah adalah dosa besar. Firman Allah ta’ala: 

    وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِين هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
    Artinya :

    Janganlah engkau taati setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, berjalan kesana kemari dengan adu domba. (QS. Al-Qolam : 10-11).

    Namimah juga termasuk sebab perpecahan masyarakat. Karena masyarakat terdiri dari individu-individu. Ibnu Abdill Barr menyebutkan dari Yahya bin Abi Katsir berkata : tukang namimah dan pendusta bisa merusak dalam 1 (satu) jam yang mana tukang sihir tidak bisa merusak dalam 1 (satu) tahun. Berkata Abdul Khattab di ‘uyun almasa’il : termasuk sihir berusaha dengan adu domba dan merusak diantara manusia. (lihat Fathul Majid bab sesuatu dari macam-macam sihir)

  • Jika betul Asy-Syaikh Robi’ bertekad mentahdzir Syaikh Yahya dan markaz dammaj tentulah beliau mengucapkan di majelis ta’lim dan tulisan karena selama ini yang ma’ruf beliau mentahdzir di majelis dan tulisan.Mari mengambil pelajaran dari kejadian Syaikh Abdullah al-Bukhori yang mentahdzir lebih kurang 2 tahun yang lalu via telpon dengan usamah mahri, mentahdir Dammaj dan thullabnya, dua orang Syaikh yang akan datang ke Indonesia tapi ternyata tidak jadi yaitu Syaikh Hasan bin Qosim arroimi dan Syaikh Muhammad bin mani’, juga mentahdzir Syaikh Yahya bahkan menuduh Syaikh Muqbil rahimahullah adalah khawarij dan thullabnya terpengaruh dengan pemikiran Syaikhnya. Namun takkala Abu Karimah Asykari Al Bugisi umroh menemui beliau dan menanyakan perkara tuduhan beliau terhadap Syaikh Muqbil rahimahullah, maka beliau mengingkari bahkan memuji Syaikh Muqbil rahimahullah.
  • Jika Syaikh Robi’ mentahdzir di majelis atau tulisan maka kita akan lihat hujjah dan bukti-buktinya. Kita tidak boleh taqlid dengan siapapun, apakah Syaikh Robi’, Syaikh Yahya, dan lainnya.Yang kita ambil adalah perkara haq. Kita mengambil ucapan Syaikh Yahya bukan karena taqlid atau mengikuti pribadi-pribadi tetapi karena perkara haq yang beliau sampaikan. Agama ini milik Allah Ta’ala. Allah lah yang menjaga agama ini dan wali-wali-Nya.

2.   Adapun masalah berita, mari kita bersikap tenang, jangan kalut dan untuk mengecek / periksa.

3.   Dzul Akmal mensifatkan Abu Turob dan orang yang bersamanya ghuluw.

Dalam Fathul Majid, ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) adalah berlebih-lebihan dalam pengagungan dengan ucapan dan I’tiqod.

Firman Allah ta’ala :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ

Artinya :

Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. (QS. An-nisa’ : 171).

Dalam tafsir Assa’dy tentang ayat diatas : Allah ta’ala melarang ahlul kitab ghuluw didalam agama yaitu melampaui batas dan ukuran syar’i kepada perkara yang tidak disyariatkan.

Berkata Syaikh Soleh bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dalam syarh (penjelasan) kitab Masail al Jahiliyah masalah yang ke 13, makna ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) dari sisi bahasa yaitu melampaui batasan.

Dikatakan : periuk mendidih, apabila air didalamnya meninggi disebabkan menggelegak.

Dan dikatakan mahal harga apabila naik dari batasan yang sudah dikenal.

Maka ghuluw adalah tambahan dan melebihi dari batasan yang sudah dikenal.

Ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) dalam syar’i yaitu tambahan pada pengangkatan seseorang diatas kedudukan yang layak baginya. Seperti mengangkat haq para nabi dan orang soleh dan meninggikan mereka ketingkat rubbubiyah atau uluhiyah.

Adapun sesuai dengan batasan atau ukuran syar’i itulah berpegang teguh atau istiqomah diatas agama ini itulah yang diharapkan.

Sekarang kita ajukan soal-soal ke abul mundzir :

  1. Apakah menggunakan yayasan sebagai sarana dakwah disyariatkan? Dan kalau tidak menggunakan yayasan adalah ghuluw?
  2. Apakah meminta-minta atas nama dakwah apalagi untuk kepentingan pribadi adalah syar’i? ataukah tidak mau meminta-minta atas nama dakwah apalagi untuk kepentingan pribadi adalah ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim)?
  3. Apakah meminta uang SPP, uang pendaftaran dan lain-lain dalam pendidikan dan dakwah adalah syar’i? atau tidak meminta uang SPP, uang pendaftaran dan lain-lain dalam pendidikan dan dakwah adalah ghuluw?
  4. Apakah membangun sebuah masjid, lalu dibangun didekatnya rumah besar penjaga masjid jauh lebih megah, bermarmer daripada masjid bahkan rumah tersebut dari hasil meminta-minta adalah syar’i? atau ghuluw?
  5. Apakah lantai dari tanah atau pasir dianggap ghuluw, lantas jika masjid berlantai marmer, semen, bambu, kayu dianggap syar’i atau ghuluw?
  6. Apakah seseorang memuji saudaranya atas keutamaan Allah ta’ala yang diberikan padanya seperti hafal Alqur’an, hafal Shohih Bukhori dll, menguasai banyak disiplin ilmu, dikenal ulama seperti antum (abul mundzir) yang dikenal ulama Saudi, tidak boleh mengucapkan “masya Allah”, apakah ini syar’i atau ghuluw? Lantas jika seseorang memuji saudaranya atas keutamaan Allah ta’ala padanya dengan mengucapkan, seperti contoh : “abul mundzir zul akmal dikenal ulama Saudi karena kehebatan dan kecerdasan beliau semata”, apakah ini syar’i ataukah ghuluw?
  7. Apakah mengucapkan kalimat “masya Allah” atas suatu perkara, hanya dikhususkan untuk jama’ah tabliq sehingga antum abul mundzir hadakallah berkata demikian? Apakah ini syar’i atau ghuluw?
  8. Jika murid antum di ma’had, rajin beribadah selain sholat wajib berjama’ah, juga melaksanakan sholat rawatib, sholat witir, sholat malam, shaum senin dan kamis, shaum bidh (putih), juga rajin membaca Alqur’an bahkan menghapalnya, apakah ini syar’i atau ghuluw? Lantas antum sampaikan atsar salaf : “sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh didalam bid’ah”. Apa yang antum inginkan? Tolong sebutkan bid’ah apa yang dilakukan abu turob sehingga antum membawa atsar ini untuk mencela mantan-mantan murid antum yang masya Allah memuji-muji abu turob dan menyaksikan atas keutamaan Allah yang diberikan kepadanya dari sisi bagus sholatnya, hafalan dan lain-lainnya yang mana mereka belum pernah melihat hal ini sebelumnya. Jangan sampai atsar ini disalah pahami sehingga akan membuat ummat malas beribadah, memperbaiki amal, memperbaiki akhlak, menghafal Alqur’an dan lain-lain karena sudah merasa dirinya sudah cukup. Justru malah menjadi sombong dan ghurur (tertipu) padahal atsar tersebut untuk memperingatkan bid’ah.
  9. Abul mundzir membuat opini bahwa orang yang bagus dan rajin beribadah, hafalan Alqur’an dan hadits, serta bagus qiro’ah seseorang, itu adalah ciri khawarij. Lantas bagaimana dengan ibadah dan akhlak para salaf? Dalam buku alkhawarij awwalul firoqi fi tarikhil Islam, DR. Nasir bin Abdul Karim al’aql mengatakan dasar-dasar khawarij pertama, manhaj mereka dan ciri umum mereka yang ke-6 adalah : tampak tanda-tanda orang sholeh pada mereka. Banyak ibadah seperti sholat, shaum, bekas sujud, baju lusuh, wajah mereka pucat karena bergadang, banyak diantara mereka waro’ (atas tanpa fiqh), jujur, zuhud diiringi ekstrim dan berlebih-lebihan dalam agama sebagaimana nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mensifati mereka (kalian merasa minder sholat kalian dibandingkan sholat mereka). “Wahai abul mundzir, jangan sampai penjelasan antum menggiring ummat untuk malas beribadah, berahlaq buruk seperti pendusta, namimah, bermewah-mewahan, mengemis dan lain-lain.”
  10. Abul mundzir telah mensifati abu thurob khawarij haddadi. Lalu menjelaskan darah khawarij halal. Lantas apakah abul mundzir menghalalkan darah abu thurob dan orang yang bersamanya?
  11. Abul mundzir menyebutkan bahwa abu turob tidak pakai SPP, kenyataan meminta infaq Rp. 50.000/bulan. Siapakah sumber berita antum? Adakah sudah mericek (tasabut)? Benar di ma’had abu thurob tidak ada SPP, bahkan beliau donatur beras untuk makan santri. Adapun untuk lauk diserahkan kepada santri dan mereka bergiliran memasak dan uang Rp. 50.000/ bulan itu kembali kepada lauk pauk santri itu sendiri.
  12. Abul mundzir menyebutkan tahdzir Syaikh Muhammad bin Hadi bahwa di Dammaj diajarkan celaan dan caci maki. Sekarang abul mundzir banyak mengeluarkan celaan dan caci maki seperti : “kalau tidak percaya, tempelkan kertas ini kemulutnya”, thogut, tempat jin buang anak, “tampung air kencing anjing segelas, lalu kasih minum abu turob”, perampok, pemulung, juga menggelari murid-muridnya yang pergi ke Bengkulu, lalu disebutkan nama mereka satu persatu sebagai dajjal, ahlul fitan, munafiqin. Apakah abul mundzir tidak mengajarkan celaan dan caci maki di ma’had rimbo panjang selama ini?
    Munafiqin adalah kuffar
    , karena mereka menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman. Apakah abul mundzir mengkafirkan murid-muridnya sendiri yang pergi belajar ke Bengkulu? Apakah sifat-sifat dajjal pada mereka?
  13. Wahai Abul Mundzir, mantan-mantan muridmu yang pergi belajar ke Bengkulu, bukan saja karena melihat jeleknya ma’had rimbo panjang atau jeleknya dzul akmal sebagaimana ucapan antum. Mereka tahu kelebihan-kelebihan atau keutamaan Allah yang diberikan-Nya kepada antum, akan tetapi mereka telah bosan dengan kejelekan yang tidak juga berubah. Sepantasnya antum merenung dan muhasabah dengan kejadian tersebut. Dulu Armen Naro Al Minangkabawi Rahimahullah membongkar abul mundzir, kemudian murid antum Abdul Qodir fauzi Al Minangkabawi membongkar juga.Ada orang yang mengatakan bahwa tabi’at, watak dan akhlak tidak bisa berubah atau diperbaiki, sebagaimana bentuk fisik tidak bisa berubah. Jika tabi’at, watak dan akhlak tidak bisa berubah atau diperbaiki maka apa faedah daripada ibadah seperti shaum ramadhan, sholat dan lainnya? Juga nasehat, bimbingan dan pendidikan?.Watak, tabiat dan akhlak bisa diperbaiki, dilunakkan dan dirubah. Berkata Ibnu Qudamah al Maqdisi dalam Mukhtasor Minhajul Qosidin halaman 141-142. “dan bagaimana kita mengingkari perubahan akhlak, sedangkan kita melihat hewan buas bisa dijinakkan, anjing bisa diajar untuk meninggalkan makan hewan buruan, kuda dilatih berjalan baik dan patuh, sebagian tabiat cepat menerima perbaikan dan sebagiannya sulit menerima perbaikan. Dan adapun khayal orang yang berkeyakinan, sesungguhnya pada pembawaan (watak) tidak bisa berubah, maka ketahuilah sesungguhnya bukanlah maksud menghancurkan sifat-sifat ini secara total, tetapi yang dituntut adalah melatih diri untuk menahan syahwat sehingga lurus (pertengahan antara berlebih-lebihan dan berkurang-kurangan). Adapun menghancurkannya secara total maka tidak boleh. Betapa tidak, syahwat diciptakan untuk faedah darurat pada pembawaan. Watak misalnya, jika selera makan hilang sama sekali, manusia akan mati. Jika syahwat hubungan suami istri hilang sama sekali, maka pudarlah keturunan manusia. Jika tidak ada emosi sama sekali, maka seseorang tidak akan membela dirinya daripada perkara yang merusaknya.Allah ta’ala berfirman :وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِArtinya; dan yang bersama dia amat keras terhadap orang-orang kuffar (QS. Al-fath : 29).Dan tidak akan timbul sikap keras kecuali dari kemarahan, kalau tidak ada kemarahan maka terhalangilah jihad terhadap kuffar.

    Firman Allah ta’ala :

    وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

    Artinya; Dan orang-orang yang menahan amarah (QS. Ali Imron : 134).

    Allah ta’ala tidak menyebutkan orang-orang yang kehilangan amarah.

    Jika binatang buas saja bisa dijinakkan seperti burung elang, ular, anjing, gajah, tentu manusia lebih utama bisa menjadi jinak dan baik, karena Allah ta’ala memberikan banyak keutamaan kepada manusia daripada binatang.

    Oleh karena itu wahai pembaca ! watak, tabiat, pembawaan atau akhlak jelek bisa diperbaiki, diluruskan dan diubah dengan izin Allah Ta’ala, apakah itu mental pengamuk, kasar lagi runcing, peminta-minta, adu domba, pencaci maki, bakhil, sombong, hasad, ujub, ghurur dan lain-lain baik dari penyakit lisan atau penyakit jiwa. Fisik bisa dilihat dengan pandangan mata dan jiwa bisa dilihat dengan basyiroh (pandangan ilmu). Masing-masing mempunyai bentuk dan gambaran baik atau buruk. Dan jiwa yang bisa dilihat dengan basyiroh lebih besar kedudukan daripada fisik yang bisa dilihat dengan pandangan mata.

    Oleh karena itu Allah ta’ala membesarkan perkara ini dan menyandarkan perkara tersebut kepada diri-Nya sendiri. Sebagaimana Firman-Nya :

    إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن طِينٍ [٣٨:٧١]

    فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي

    Artinya :

    Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah, maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan ruhKu (QS. Shad : 71-72).

    Maka Allah ta’ala mengingatkan bahwa fisik disandarkan kepada tanah dan ruh disandarkan kepada-Nya, maka akhlak adalah ungkapan dari bentuk jiwa mendalam yang menimbulkan perbuatan-peruatan dengan ringan dan mudah tidak perlu lagi pikiran dan pertimbangan.

    Jika perkataan-perkataan baik, maka dinamakan akhlak (prilaku) baik dan jika perbuatan-perbuatan jelek dinamakan aklak buruk.

    Bagaimanakah meluruskan/memperbaiki akhlak ?

    • Menyadari adanya kejelekan-kejelekan.
    • Azam (tekad) yang kuat untuk memperbaiki.
    • Bersabar.Sebagaimana pengobatan penyakit badan menahan pahitnya obat, sabar menahan selera-selera untuk kesehatan badan, demikian juga pengobatan akhlak untuk menahan pahitnya mujahadah (bersungguh-sungguh), sabar mengobati penyakit hati.
    • Memberikan sanksi kepada dirinya sendiri jika mengulangi lagi.Oleh karena itu, akhlak (prilaku) baik kembali kepada kekuatan akal, emosi dan syahwat.

     

Menurut Ibnu Qudamah, perkara terbesar yang membinasakan/menghancurkan manusia adalah :

  • Syahwat perut karena dengan perbuatan tersebut dikeluarkanlah Adam ‘عليه السلم dari surga.Dari syahwat perut muncul syahwat kemaluan dan kecintaan pada harta.
  • Bencana lisan.Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda :Artinya : Barang siapa yang menjamin untukku apa yang diantara jenggot dan kedua kakinya, aku jamin untuk dia surga. (HR. Bukhori : 6474, Tirmidzi : 2408, Ahmad : 22316).Hadits lain :Artinya : Tidak lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya dan tidak lurus hatinya sehingga lurus lisannya. (HR. Ahmad : 12636, dihasankan Al-albani di Shohih al Targhib : 2554).
  • Emosional dan hasad (dengki). Kemarahan adalah percikan dari api. Sifat api adalah mendidih, menggelegak, meledak dan keributan. Dan syaithan la’natullah diciptakan dari api.Hasad adalah tidak senang melihat seseorang mendapat kenikmatan. Sifat ini menggiring pelakunya kepada perbuatan buruk. Karena dengkilah Qabil membunuh Habil, dan musyrikin dengki dengan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sehingga menolak Alqur’an.
  • Fitnah duniawi.
  • Bakhil, hirsh (gigih), tamak (rakus).Sebagaimana disebutkan dalam hadits : “Dunia adalah penjara mukmin dan surga kuffar.” (HR. Muslim)Dalam Sunan Tirmidzi dari Nabi Shallallhu alaihi wasallam, beliau bersabda :“Tidaklah dua serigala lapar dilepas dikumpulan kambing lebih merusak, daripada kerakusan seseorang pada harta dan kemuliaan untuk agamanya.” (HR. Tirmidzi : 2376, Ahmad : 15367)Dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau mengucapkan : “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau daripada penakut dan pelit.” (HR. An-nasa’i : 3110, Ahmad : 9400)
    Berkata Al-Albani : shohih lighoirihi.
  • Cinta kedudukan (popularitas) dan riya’.
  • Sombong dan ujub.Defenisi sombong sebagaimana penjelasan Nabi Shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda : “Sombong adalah menolak perkara haq dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)Allah ta’ala berfirman :سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّArtinya :Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya dimuka bumi tanpa alasan yang benar. (QS. Al-a’raf : 146)إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ [١٦:٢٣]Artinya :Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang sombong. (QS. An-nahl : 23)Karena sombonglah iblis la’natullah tidak mau melaksanakan perintah Allah ta’ala untuk sujud kepada Nabi Adam عليه السلم.
  • Ghurur (tertipu).(Diringkas dari buku Mukhtasor Minhajul Qosidin, Ibnu Qudamah halaman 151-223.)

Komentar ini ana tulis karena permintaan 4 orang ikhwan yang berkunjung kerumah ana sabtu malam 8 Sya’ban 1432 H dan pengaduan sebagian ikhwah di Jambi lain bahwa ada satu orang luqmaniyun di kota Jambi yang sudah dikenal sebelumnya sebagai orang yang tidak beradab, tukang adu domba (namimah), kedustaan, hasad, pengorek kesalahan-kesalahan, dan sombong memanfaatkan muhadaroh abul mundzir dzul akmal. Dia bagaikan mendapatkan angin segar karena selama ini dia sudah dikucilkan oleh salafiyin di propinsi Jambi. Dan jangan lagi ihkwan salafiyin diluar propinsi Jambi tertipu dengan permainan orang ini seperti yang menimpa ikhwan selensen kabupaten Indragiri Hilir Riau dan Kabupaten Lingga Kepri yang menyangka bersama mereka.

Jika abul munzir dzul akmal saja menyebutkan bahwa dia bertanya tentang berita abu ishaq (orang yang membaca buku dalam ta’lim Syaikh Robi’), maka temannya berkata : “dia (abu ishaq) telah hilang, Syaikh Robi’ telah mengusirnya karena tidak punya adab”. Maka bagaimana dengan luqmaniyun satu ini?

Inilah secuil komentar dari ana terhadap ucapan abul mundzir tanggal 1 Sya’ban 1432 H di ma’hadnya. Kita bukan taqlid kepada seseorang dan tidak membela Syaikh Yahya atau abu thurob secara zatnya, tapi perkara haq yang disampaikan. Semoga Allah ta’ala mengokohkan kita dalam agama ini atas pemahaman salafussholeh.

Selesai tanggal 20 Sya’ban 1432 H
Ditulis oleh Abu Abdillah Muhammad Ja’far Abdul Latif Al Kampari
Di Kota Jambi

Sumber: http://www.salafiyun.co.cc/

Audio/Artikel terkait:

  1. Dzul Akmal: UNDERCOVER #2 + AUDIO
  2. Dzul Akmal: UNDERCOVER #1
  3. Kumal-Kumal Dzul Akmal
Kategori: Umum | 1,935x Dilihat